Bethoven Virus, sebuah film tentang musik....

Sekitar 2 bulan yang lalu, saya secara tidak sengaja menonton sebuah film tentang musik di B-channel TV, film drama Korea. Judulnya 'Bethoven Virus". Adegan yang saya tonton pertama kali adalah saat seorang celloist membawakan lagunya Astor Piazolla, Liber Tango. Sampe bengong saya (cuplikannya adegannya bisa dilihat di bawah).
Filmnya kalo menurut saya memang bagus (walaupun saya kurang suka beberapa konflik di dalamnya). Dan ternyata di Korea sana, film ini sudah dapat banyak penghargaan.




Inti ceritanya film ini tentang seorang Konduktor tingkat dunia, Maestro Kang Gun Woo, yang saat di korea dipertemukannya nasib dengan seorang pemain biola Du Rumi dan seorang Polisi Kang Gun Woo yang pintar bermain terompet dan punya bakat alami musik yang hebat yang tak disadarinya.


Buat yang pengen tahu sekilas ceritanya, bisa dibaca disini :


Ini drama korea yang ingin memperkenalkan musik klasik bagi ke para penonton, drama yang bertabur dengan banyak penghargaan.

Drama ini diawali dengan perkenalan 3 tokoh utamanya.
Yang pertama adalah Kang Ma Eh/Kang Gun Woo seorang konduktor orkestra kelas dunia.
Dia terkenal punya standar tinggi, keras dan tanpa kompromi. 10 tahun yang lalu dia dalam menit-menit terakhir tidak mau memimpin orkestra karena kemampuan para pemain orkestranya di luar standardnya. Dia berkata malu jika di surga nanti bertemu Brahms karena membawakan komposisinya tidak tepat.(Kang Gun Woo ini selanjutnya beliau kita sebut maestro Kang).

Yang ke dua adalah seorang polisi muda yang juga bernama Kang Gun Woo. Dia adalah calon konduktor masa depan. (selanjutnya kita sebut Gun Woo aja)

Yang ke tiga adalah Du Ru Mi (plesetan dari do re mi kali ya hehe). Seorang gadis yang pintar bermain biola tapi sekarang hanya bekerja sebagai pegawai negeri, bagian seksi seni dan budaya di kotanya. Dua bulan ke depan dia akan menjadi koordinator orkestra.



Hari itu Gun Woo telah kelelahan karena tiga hari kerja berturut-turut siang dan malam. Sebelum beristirahat dia harus menyelesaikan perselisihan tabrakan di jalan. Orang yang berselisih itu tidak mau berdamai dan tidak mau dipisah.

Mereka terus saja ribut padahal mobil mereka menghalangi jalan. Sedangkan di sebelah sana ada wanita hamil yang akan melahirkan. Saat kelelahan dan cuaca yang begitu panas Gun Woo akhirnya tak bisa mentolerir itu semua. dia mengendarai mobil, menabrak dan menyeret mobil itu dari tengah jalan. Karena perisiwa itu Gun Woo mendapat sanksi skorsing.


Du Rumi merasa yang tidak puas dengan karirnya. Sebagai seorang pemain biola lulusan sekolah musik, dia kini yang hanya bisa jadi pegawai negeri di kota kecil bernama Suk Ran. Dia sempat iri melihat kesuksesan temannya yang sama-sama bersekolah di sekolah musik, juga punya karir yang sukses di jalur musik. Dia lalu membuat proposal yang akan menjadikan Suk Ran sebagai kota musik.

Proposalnya disetujui oleh walikota. Untuk mewujdukan hal itu meraka akan mengadakan pertunjukkan musik orkestra di kota mereka. Du Ru Mi menjadi projek koordinator/music directornya. Dia juga menyewa sebuah gereja kecil untuk tempat latihan.

Namun kabar buruk menyertai Du Ru Mi, konduktor yang telah dia tunjuk bermasalah dan ternyata penipu, dia ditangkap oleh polisi karena menggelapakan uang dan gelar musiknya juga. Celakanya Du Ru Mi telah membayarkan uang projek sebesar 3 juta won untuk orkestra ini kepadanya.
Sesi latihan pun tiba. Dia telah menghubungi para musisi profesional untuk tampil pada konser. Pada mereka Du Ru Mi menampilkan fakta itu apa adanya san dia berkata para musisi ini mungkin tidak mendapat bayaran sebagaimana mestinya. Dia berlutut sambil menangis memohon kebaikan hati mereka sebagai pecinta musik untuk bisa memaklumi dan menolong projek konser kota ini.
Tapi satu per satu para musisi itu meninggalkan tempat tak mempedulikan permohonan Du Ru Mi. Mereka para profesional yang tak mau main tanpa bayaran.
Kejadian berhasil dirahasiakan dari publik termasuk dari walikota
Du Ru Mi merasa berada di tepi jurang yang dalam. Dia rasanya ingin terjun saja sampai ke dasar airnya dan tenggelam di sana(adegan ini bagus. musik dan suasananya dramatis).
Tapi dia hanya bisa menenggelamkan kepalanya di bath tubnya.


Namun Du Ru Mi tak menyerah dia memitna tolong kepada seniornya dulu, Park Hyun Kwon seorang bassis yang sekarang bekerja di perusahaan dan dulu pernah memimpin grup di sekolah mereka. Seniornya dengan relasinya di sekolah dulu bisa mencarikan beberapa pemain untuk Du Ru Mi
Untuk kekurangan pemain lainnya Du Ru Mi menyebarkan pamflet untuk audisi mencari pemain musik sebagai tenaga part timer spesial projek.
Dia awalnya mencari pemain yang berpengalaman lama ikut orkestra musik klasik, tetapi karena sepi peminat dan desakan walikota, dia berkali-kali dia memperingan persyaratan. Sampai akhirnya yang tidak berpengalaman pun asal dia mahir bermain musik boleh ikut audisi.

Senior Park tidak berhasil mendapatkan 1 pemain terompet pun. Dia berbicara dengan Ru Mi di telepon. Saat putus asa tiba-tiba Ru Mi mendengar seseorang bermain terompet di dekat rumah kontrakannya. dia langsung keluar rumah dengan sangat antusias. Ibu kosnya menunjukkan rumah asal suara terompet itu. Ru Mi mengunjungri rumah itu, tapi orang itu tidak mau membuka pintu rumahnya. Ibu kos memberi tahu bahwa yang ada di rumah itu adalah Kang Gun Woo keponakannya, seorang polisi yang sedang istirahat (kena skorsing). Ru Mi semakin tertarik karena berati Gun Woo punya banyak waktu luang. Tapi Ibu Kos berkata bahwa keponakanya orangnya keras kepala dan tidak suka bermain dalam grup musik di atas panggung.
"Namun jika kau benar-benar minta tolong padanya mungkin dia bersedia. Dia mudah tersentuh jika ada orang yang butuh pertolongan" , ujar Bu Kos.

Keesokan paginya Ru Mi menyusun rencana, dia mengikui Gun Woo naik kereta. Dia mengamen dengan biolanya dan menyebarkan brosur di kereta api termasuk Gun Woo tentunya, isinya meminta dukungan untuk konser orkerstra yang akan diselenggarakannya sebagai konser terakhirnya sebelum dia benar-benar tuli. Dia juga menulis sangat membutuhkan seorang pemain terumpet.
Gun Woo terlihat cuek saja setelah membaca selebaran itu.
Ru Mi merasa usahanya sia-sia.
" Apanya yang mudah tersentuh", Ru Mi mengomel sendiri
Lalu Gun Woo keluar begitu saja di stasiun tujuannya. Ru Mi buru-buru keluar juga di stasiun yang sama. RU Mi mencari dan mengejar Gun Woo.Ternyata Gun Woo sendirilah yang menghampiri Ru Mi. Dia bersedia membantu. Ru Mi pura-pura tidak bisa mendengar jelas (alias budek) tapi dia tetap meminta Gun Woo bermain.
Dan Ru Mi benar-benar puas dan terkesan. Tapi malangnya Hp Ru Mi berbunyi, begitu tahu walikota yang menelepon dia tak sadar langsung bicara di telepon. Gun Woo sadar dia dibohongi dan pergi dengan marah.

Keesokan harinya Ru Mi kembali membujuk Gun Woo, dia mengikuti Gun Woo berolah raga (sukkie kliatan macho klo lg gini ya).
Dia juga memberikan stiker untuk Gun Woo (emang anak kecil diiming iming stiker hehe)
"Aku tidak suka musik klasik"
"tapi lagu mars yang kau mainkan kemaren itu sebenarnya musik klasik khan"
"Itu karena lagu perjuangan"
"Itu lagu mars karangan Johann Strauss , Radetzky March Op. 228"
Tapi Gun Woo belum tergerak dia benci dengan musik klasik.

Untuk kekurangan pemainnya Du Ru Mi dan senior Kang (bassis) mengaudisi para peserta mereka berhasil mendapatkan tambahan pemain cello, terumpet, oboe, flute juga biola.
Pemain cello-nya ternyata Ibu kosnya sendiri, seorang ibu rumah tangga yang belakang ini hanya sibuk mengurus anak-anak dan suaminya yang cerewet. Ibu kos datang ke audisi tidak membawa cello karena saat menikah dia menjual cello kesayangannya. Di orkestra dia ingin dipanggil sebagai Ms Jung Hee Yun.
Pemain terompet, hanya Bae Yong Gi yang mendaftar. Dia hanya pemain kabaret yang walaupun bisa main terompet tapi wawasan musik klasiknya sangat kurang dan orangnya juga kikuk.

Pemain Oboe adalah Kim Gab Yong, seorang kakek yang sudah 8 tahun keluar dari grup nya terdahulu, Seoul Orkestra.

Selain iu 2 orang pemain biola yang terbiasa memainkan biola elektrik.

Dan yang terakhir pemain flute, Ha Yi Deun adalah seorang gadis yang masih sekolah di smu.

Semua pemain berkumpul pada malam hari untuk latihan. mereka sebenarnya masih kekurangan pemain terompet. Pemain kabaret itulah yang satu-satunya berhasil mereka dapatkan. Saat latihan pemain kabaret itu membuat ulah dan bertengkar dengan senior Park, pemain bass(atau contra bass, dulu aku nyebut bass kayak gini bas betot hehe). Walikota juga ada rencana ingin melihat latihan mereka, Ru Mi semakin tertekan.

Ru Mi akhirnya nekad langsung masuk dan menyantroni Gun Woo di rumahnya. Gun woo menempati rumah seseorang yang pemiliknya sedang pergi ke amerika. Ru Mi tidak mau pergi jika Gun woo tidak mau menyebutkan mengapa dia benci musik klasik.
Alasan pertama, dia tidak suka musik klasik karena menurutnya ribet, banyak istilah asing dan saat konser juga harus memakai baju resmi. Dia juga benci kepada 2 orang yang suka musik klasik.
"Pertama adalah kamu", kata Gun Woo pada Ru Mi. Gun Woo lalu menceritakan seseorang lagi yang dia benci sejak masih sekolah.
"Dulu sebenarnya aku suka, sampai aku bertemu orang yang menyebalkan itu!", lanjut Gun Woo.
Ternyata Gun Woo membenci maestro Kang. Waktu masih bersekolah, dia pernah bertemu maestro Kang 10 tahun lalu.
Dia menghadap untuk bertanya dalam rangka tugas sekolah.
Dia menanyakan definisi musik klasik. Tapi komentar dan jawaban maestro Kang membuatnya sakit hati.
"Kok ada ya orang yang seperti itu", komentar Ru Mi setelah mendengar cerita Gun Woo.
"Kamu juga bukannya sama saja, kamu yang menghilangkan 3 juta won dan kamu sekarang memaksa orang untuk bermain demi menutupi kesalahanmu. Mengapa kamu tidak mengaku dan menyerahkan diri saja ke polisi", protes Gun Woo.
Rumi akhirnya permisi pulang, dia sedih atas tuduhan Gun Woo padanya. Sebelum pergi dia berkata sambil berkaca-kaca
"Saya akui saya tidak mengaku karena takut dipecat, tapi saya memang memimpikan bermain di panggung dan memberikan yang terbaik begitu juga orang-orang yang tergabung di orkestra ini", curhat Ru Mi.
Gun Woo jadi agak bersimpati padanya.

Ru Mi kelabakan 1 minggu lagi walikota akan menyaksikan persiapan mereka. Walau harus membayar mahal, dia terpaksa mengajak seorang guru musik peniup terompet yang mata duitan dan menyebalkan.Tak disangka-sangka, Gun Woo datang ke tempat latihan, dia bersedia bergabung akhirnya. Guru musik yang menyebalkan itu pun akhirnya tidak mereka butuhkan lagi karena Gun Woo dengan mudah menyesuaikan diri dengan latihan. Gun Woo pun bisa bekerja sama dengan peniup terompet dari kabaret itu.

1 minggu kemudian walikota datang melihat persiapan konser, beliau pun puas.
Walikota bertanya siapa yang akan menjadi konduktor nantinya.
"Apa konduktor Jung Myung Hwan?"
"Bukan dia Pak, jadwal beliau sudah sangat padat 2 tahun ini. Konduktor yang ini juga tidak kalah ternama di eropa, beliau datang sore ini namanya konduktor Kang Gun Woo atau maestro Kang ", ujar Du Ru Mi
Kakek pemain oboe dan Gun Woo mendengarnya. Kakek pemain oboe mengenali konduktor ini.

Saat istrahat kakek menjelaskan lebih dalam tentang siapa maestro Kang sebenarnya.
"Julukannya adalah orkestra killer", kata kakek. Kakek menjelaskan kejadian 10 tahun lalu saat Maestro Kang memimpin konsek musik di depan presiden dan ibu. Karena tidak puas dengan penampilan pemain-pemain musiknya dia berhenti ditengah-tengah lagu dan memiilih tak melanjutkannya.
Dia minta maaf kepada penonton dan berkata akan mengganti tiket yang telah dikeluarkan dan minta para penonton untuk membeli CD Brahms saja.
Gun Woo juga berkata bahwa dari 10 tahun lalu orang yang dia benci itu adalah maestro Kang itu.
"Kita akan bermain dengan konduktor semacam itu?! Dan Ini pertama kali dia kembali ke korea sejak 10 tahun lalu, dan orang yang mengundangnya pulang adalah...,Kau!", sindir Gun Woo pada Ru Mi

Di bandara, Maestro Kang sudah sampai di korea, dia sedang menunggu pengurusan surat-suratnya sambil membaca partitur msuk klasik. Setelah semuanya beres dia membawa koper dan menuntun anjingnya keluar dari bandara.

"Sudah 10 tahun dunia banyak berubah, tapi tak ada yang berubah di sini", komentar Maestro Kang begitu keluar dari bandara.

Penasaran? Lanjut?

Langsung aja ke website pe-reviewnya ya..... :-)

http://nana-catatanku.blogspot.com/p/beethoven-virus.html

Adegan yang paling saya suka (kalo tidak salah) ada di episode ke-5. Komposisi Liber Tango-nya Astor Piazolla. Dibawakan pake cello. Keren banget.....


isi spoiler/kode banner,dsb

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengunjung

 
Copyright © Blognya Mas Eko