Chopin, Setelah 201 tahun

Oleh : Slamet Abdul Sjukur

Dunia Chopin = dunia musik.  Dan khususnya musik bagi komponis. Singkat kata DUNIA PENDENGARAN yang kreatif. Bagi manusia moderen yang semakin tenggelam dalam budaya kasat-mata,  dunia-pendengaran  terasa semakin asing. Karenanya Peringatan 200 Tahun Chopin, sangat penting untuk mengingatkan kita pada dimensi kedalaman yang nyaris terlupakan. Waktu bermeditasi atau pada saat-saat khusyuk berdoa, bahkan ketika menikmati kebahagiaan dalam pelukan pertama, kita memejamkan mata untuk membebaskan diri dari keterbatasan dunia visual.




Musik Chopin bisa kita resapi sepenuhnya hanya dengan cara seperti itu, dengan merasakannya dari dalam.  Apa untungnya meresapi Chopin seperti itu ?  Tidak ada !  Dari segi material tidak ada gunanya ! Apa lagi dengan mental bisnis yang cuma tahu menghitung   ‘untung-rugi’   sebatas ukuran kebendaan jangka pendek.

Dalam kebingungan kehidupan moderen,  kita sekarang ini diam-diam mempertuhankan uang. Dan hanya memikirkan diri sendiri. Persetan yang lain. Kita terpaksa harus pandai bermain sandiwara demi kebahagiaan semu (pengakuan, uang dan kekuasaan) yang dijadikan tolok ukur masyarakat.  Ini adat dunia, memang. Tapi bukan satu-satunya. Yang lain, misalnya musik. Sebagai gelombang, dia bisa bergerak ke semua penjuru dan merasuk kemana saja, tidak terkecuali ke dalam relung-relung tubuh sampai ke sistim saraf kita yang demikian rumit. Dan terjadilah persekongkolan  antara musik dan jiwa kita yang paling dalam. Kita dibuatnya menyadari adanya lautan rasa yang tidak terjangkau oleh kesibukan sehari-hari,  sekaligus menyadari bahwa yang sehari-hari itu bukan segalanya.

Chopin, dunia bunyi diantara bunyi-bunyi lain yang tidak terhitung banyaknya. Cirinya yang khas jika dibandingkan dengan para komponis seperti Beethoven, Mozart dan Bach, musik Chopin terasa lebih luwes, harmoninya mengaburkan perbatasan-perbatasan yang biasanya sangat jelas memisahkan suatu daerah tonalitas yang satu dengan lainnya. Dalam hal melodi,  Chopin (seperti halnya Mozart) sangat tersentuh oleh getaran suara manusia. Opera-opera Rossini, Donizetti dan Bellini membuatnya dalam kedua jilid Wohltemperierte Klavier yang masing masing memuat 24 pasang Prelude-Fuga, Bach menyusun urutannya secara kromatik: C mayor-c minor-C# mayor-c# minor-D mayor-d minor ---dan seterusnya. Sedangkan Chopin menyusun urutan 24 Preludenya tidak secara kromatik melainkan dalam siklus kwin yang masing-masing diikuti relativ minornya: C mayor (kemudian a-minor)-G mayor (kemudian e-minor)-D mayor (kemudian b-minor)---dan seterusnya.

Chopin yang hidup di zaman Romantik dengan ciri harmoni-kromatik yang mengaburkan tonalitas, menggunakan siklus-kwin yang menjadi medan magnit dominan-tonika yang amat penting di zaman Bach. Sebaliknya Bach sendiri sudah melompat jauh ke depan dengan menggunakan kromatik sebagai pembebasan diri dari tarikan domonan-tonika. Pembebasan diri ini bahkan berlanjut sampai ekstrim di awal abad 20 !!! (Serialisme Schönberg).

Bach dengan suita –nya membuat musik tari sebagai sumber untuk dijadikan musik yang akhirnya bisa dinikmati tanpa perlu tarian lagi. Begitu pula Chopin dengan krakowiak, mazurka, polonaise, wals, ecossaise, dan bolero.

Disamping itu, Chopin membuat berbagai jenis musik yang mandiri: ballade yang dulunya suatu cerita yang dinyanyikan dan bisa sambil ditarikan, menjadi karya instrumental;   prelude yang dulunya sebagai intro atau pembuka untuk karya berikutnya yang lebih penting (contoh Prelude Fyga, Bach), menjadi karya yang berdiri sendiri (ditiru kemudian oleh Skrjabin, Debussy dll);  étude yang dulunya hanya latihan teknik, menjadi karya mandiri yang intinya tetap soal teknik tapi dalam arti yang lebih luas (mencakup teknik ekspresi musik) dan bisa dinikmati seperti halnya musik jenis lain; impromptu sebagai improvisasi yang tertulis, lebih sulit di tebak dari pendahulunya (Schubert,1797-1828); sonata, juga bukan hal baru, tapi Chopin menjadidikannya lebih padat dengan cara yang khas dalam mengolah dan mengembangkan tema-temanyanya.

Disamping karya-karyanya yang sudah sangat terkenal, juga ada yang tidak banyak diketahui: sebuah Polonaise untuk cello dan piano, sebuah Polonaise dengan iringan orkes, sebuah Trio biolin-cello-piano, Fantasia dari lagu-lagu rakyat dengan iringan orkes, Gran Duo untuk cello dan piano berdasarkan tema dari opera Meyerbeer “Robert Si Setan”, Krakowiak untuk piano dan orkes.

Chopin, bagi penerbit,  sering memusingkan. Naskahnya yang sudah siap untuk dicetak, sering ditariknya kembali untuk diperbaiki lagi. Dorongan untuk mencipta tidak pernah berhenti, begitu pula kebutuhannya untuk terus menyempurnakannya. Sebagai pianis, dia lebih suka main di rumah-rumah orang yang bisa menampung sejumlah kenalan-kenalan yang berminat dari pada di gedung  konser. Sebagai guru, dia sangat hangat tapi juga sangat menuntut. Mungkin karena teladan dari ketiga gurunya: Ludwika (kakaknya sendiri yang pertama kali engajarnya) Wojciech Zywny dan baru kemudian Józef Elsner yang tidak otoriter melainkan ‘tut wuri handayani’.

Bagi Chopin, teknik tidak terpisahkan dari musikalitas. Murid-muridnya tidak cuma dilatih jari-jarinya saja, dia menekankan pentingnya pendengaran untuk mengatur kualitas bunyi yang dihasilkan  jari-jarinya. Bagaimana menemukan pernafasan kalimat-kalimat musik dan memberinya energi untuk menghidupkannya. Bagaimana memilih nuansa yang pas bagi setiap nada dan dalam hubungannya dengan nada-nada di sekitarnya. Dia sering mengeluh karena banyak muridnya yang tidak mengerti bagaimana menghubungkan nada-nada dengan legatissimo   yang   cantabile.

Dalam hubungan antara unsur fisik dan mekanik kibor dengan anatomi tangan,  Chopin menunjukkan bahwa tangga-nada C mayor itu jauh lebih sulit dati tangga-nada F# mayor atau Db mayor. Dalam C mayor, kibor-putih dari ujung kiri piano ke ujung kanan, seluruh permukaannya rata, padahal jari-jari kita tidak sama panjangnya. Sebaliknya, dalam tangga-nada F# mayor dan Db mayor ada tiga kibor-hitam yang mudah digapai oleh tiga jari tengah yang panjang.

Etude op.10 no.2  untuk melatih jari 3-4-5 yang lemah. Etude op.10 no.5  untuk melatih jari-1 memainkan kibor-hitam (hal yang biasanya dianggap tidak lazim). Etude op.25 no.10  khusus teknik oktaf.  Chopin juga mengajarkan metode Clementi.

Ferencz Liszt yang lebih muda setahun (1811-1866) mengaguminya dan menulis buku tentang riwayat hidup Chopin. Demikian pula Robert Schumann (1810-1856), dalam karyanya Le Carnaval terdapat sebuah potret (musik-) Chopin. Karya lainnya Kreisleriana yang terdiri dari 8 bagian dan merupakan salah satu karyanya yang penting, ditulis khusus untuk Chopin. Sebaliknya, Chopin sendiri mengarang Ballade  F mayor untuk Schumann.

Karya Chopin Preludes op.28,  Etudes op.10  dan  Etudes op.25  menjadi ilham bagi Schumann (Etudes Symphoniques op.13),  Liszt (Etudes Transcendants),   Skrjabin (1872-1915: Preludes op.11),  maupun  Debussy (1862-1918, 24 Preludes).
Chopin yang kesehatannya rapuh karena menderita penyakit jantung, tidak berarti musiknya ikut sakit-sakitan, memang halus, ekspresif tapi menurut Vladimir Horowitz juga dahsyat seperti singa jantan

Di dalam percintaan, ada nama-nama Maria Wodzińska dan Delfina Potocka dan dua nama lain.  Hubungannya yang terpenting ialah dengan George Sand seorang srikandi yang suka merokok, naik kuda dan berpakaian laki-laki, seorang pengarang novel yang terkenal. Janda cantik dengan dua orang anak, dan berusia lebih tua dari Chopin.

Berawal sebagai kekasih yang sederajat, kemudian dengan rela menjadi perawat setia Chopin yang tubuhnya semakin lemah,  dan akhirnya berpisah  sesudah sepuluh tahun. Bahkan tidak hadir pada upacara pemakaman Chopin yang diikuti sekitar 3000 orang  sepanjang jalan di Paris antara gereja Madeleine dan kuburan Pere Lachaise.

Juga ada Jane Wilhelmina Stirling, muridnya yang kaya raya berkebangsaan Scotlandia. Gadis ini ingin menikah dengan gurunya, tapi Chopin sadar bahwa sakitnya semakin parah dan hidupnya tinggal sebentar lagi, maka dia tidak ingin menjadi beban Jane.
Jane inilah yang membayar apartemen Chopin yang mewah dengan tujuh kamar, bekas kedutaan Rusia di Paris. Dia juga yang membeayai seluruh upacara penguburan Chopin (termasuk ongkos pulang Ludwika kakak perempuan Chopin ke Warsawa) dan pembuatan patung di makamnya.

Upacara di gereja Madelein tertunda sampai dua minggu, karena Chopin sudah pesan agar dinyanyikan Requiem-Mozart, dan musik tersebut melibatkan paduan suara perempuan, pada hal sampai pada saat itu gereja mengharamkan perempuan menyanyi di gereja. Maka baru setelah ada kesepakatan bahwa paduan suara perempuan  disembunyikan di balik korden beledru hitam, upacara bisa dilaksanakan (30 Oktober 1849).

Diantara para penyanyi itu ada mezzo-soprano Pauline, sahabat George Sand dan Chopin. Juga seorang penyanyi bersuara bas Luigi Lablache yang pernah ikut menyanyikan karya yang sama untuk kematian Bellini (1835), Beethoven (1827) dan Haydn (1809).  Lablache (1794-1858) baru lahir tiga tahun sesudah Mozart menciptakan karya tersebut atas pesanan seseorang yang misterius dan ternyata musik itu untuk kematian Mozart sendiri (baru kemudian diketahui bahwa pemesan yang misterius itu tidak lain dari komponis Salieri yang iri hati).

Opera dan Film tentang CHOPIN
1901: opera (satu-satunya sampai sekarang) CHOPIN oleh Giacomo Orefice.
1945: film A SONG TO REMEMBER (sutradara ?).
Tahun ? : film Ingmar Bergmar AUTUMN SONATA
1975: film Ken Russel LISZTOMANIA.
1991: film IMPROMPTU (sutradara ?) dan LA NOTE BLEUE (sutradara?)
2002: film CHOPIN, DESIRE OF LOVE (sutradara?)

The International Fryderyk Chopin Piano Competition
Sejak 1927 diselenggarakan sayembara internasional  untuk memainkan karya-karya piano Chopin. Penggagasnya: Jerzy Zurawlew seorang komponis, pianis dan pendidik. Diselenggarakan setiap lima tahun: 1932, 1937 penyelenggaranya Sekolah Tinggi Musik dan Masyarakat Warsawa.   Selama Perang Dunia II, sayembara tersendat Baru bisa diteruskan 1949 dan 1955 dengan bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan. Selanjutnya diselenggarakan secara teratur setiap lima tahun                            
21 Oktober 2010 yang baru lalu diselenggarakan kompetisi yang ke-16 sebagai puncak peringatan 200 TAHUN KELAHIRAN CHOPIN. Pesertanya 148 orang. Penghargaan tertinggi diberikan pada Yuliana Avdeeva (usia 25 th berkebangsaan Rusia). Penghargaan kedua pada dua orang Lukas Geniuses (25 th, Rusia) dan Ingolf Wunder (20th, Austria).Penghargaan-3 pada Daniil Tritonof (Rusia). Penghargaa -4 pada Evgene Bozhanov (Bulgaria).

S u m b e r
1. Jean-Jacques Eigeldinger
“CHOPIN: Pianist and Teacher As Seen by His Pupils”
(Cambridge University Press, ISBN 0-521-36709-3),
2. Tad Zulc
“CHOPIN IN PARIS: The Life And Times of Romantic Composer”
(Scribner, N.Y.,ISBN 0-684-82458-2),
3. Hans Werner Wuest
“Frédéric CHOPIN, Briefe und Zeitzeugnisse”
(Classic-Concerts-Verlag, Köln, ISBN 3-8311-0066-7),
4.David Dubal
EVENINGS WITH HOROWITZ, A Personal Portrait
(A Birch Lane Press Book ISBN 1-55972—094-8)
5. André Maurois
“LEILA, La Vie de George Sand”
(Librairie Gallimard, Paris)
6. Encyclopædia Britanica 2005,
7.Google

Lampiran:
AN A L I S A  S I N G K A T 1
P R E L U D E   op.28  no.12
B E R C E U S E  op.57
Sumber : http://www.dkj.or.id/articles/musik/chopin-200-tahun

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengunjung

 
Copyright © Blognya Mas Eko